Tampilkan postingan dengan label UIN SUKA. Tampilkan semua postingan
MAKALAH PESERTA DIDIK
Diajukan sebagai
Tugas mata kuliah Ilmu Pendidikan
Dosen Pengampu :
Drs. Sabarudin, M.Si
Disusun oleh :
Kholifia Nadhifah 17104010088
Dewi Ainin 17104010089
Bella Ayu Nurhalizah 17104010090
Bambang Bahrul Ulum 17104010091
Irhamna Addaafi’alqodiyah 17104010092
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
UIN SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2017
KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan Rahmat dan HidayatNya kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini. Sholawat serta Salam semoga selalu tercurahkan kepada junjungan kita semua Nabi Muhammad SAW yang selalu kita nati-nantikan SyafaatNya di Yaumul Kiyamah nanti. Makalah ini kami susun untuk memenuhi tugas mata kuliah Imu Pendidikan, dalam makalah ini kami membahas mengenai “PESERTA DIDIK”. Terima lupa kami ucapkan terima kasih pada semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini.
Kami menyadari bahwa dalam bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan, oleh sebab itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Dan semoga dengan selesainya makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan teman-teman.
Yogyakarta, 21 Oktober 2017
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Seperti yang kita ketahui bahwa ilmu pendidikan adalah ilmu yang mempelajari bagaimana cara mendidik adapun objek yang dididik adalah peserta didik, peserta didik adalah seseorang anak manusia yang mengalami proses pendidikan, setiap peserta didik memiliki metode pembelajaran yang berbeda-beda dikarenakan banyak faktor yang mereka miliki.
Setiap peserta didik mempunyai kriteria dan prinsip pengembangan diri yang berbeda-beda, peserta didik yang baik harus memiliki jati diri yang baik karena dapat menunjang proses pendidikan itu sendiri.
Proses pendidikan mempunyai berbagai perencanaan pembelajaran yang berbeda-beda yang mana setiap perencanaan mempunyai aspek yang berbeda pula.
2. Rumusan Masalah
Apa yang dimaksud peserta didik?
Bagaimana karateristik dan perkembangan peserta didik?
Apa saja aspek-aspek perkembangan peserta didik?
Bagaimana perencanaan pembelajaran bagi peserta didik?
Tujuan
Agar mahasiswa mengetahui hakikat peserta didik
Agar mahasiswa mengetahui karateristik peserta didik
Agar mahasiswa mengetahui aspek-aspek perkembangan peserta didik
Agar mahasiswa mengetahui perencanaan pembelajaran bagi peserta didik
BAB II
PEMBAHASAN
1. Peserta Didik
Pesrta didik adalah seorang anak manusia yang mengalami proses pendidikan. Ia selalu mengalami perkembangan sejak terciptanya sampai meninggal dengan proses perubahan-perubahan secara wajar. Untuk menentukan kriteria secara tepat siapa dan bagaimana yang dapat disebut peserta didik, perlu ditentukan terlebih dahulu dari sudut pandang mana kita akan mendefinisikan pengertian dari peserta didik.
Ada sebagian orang mendefinisikan pengertian peserta didik berdasarkan kriteria umur ada pula berdasarkan kriteria kemampuan belajar, tingkat kedewasaan, dan bahkan adapula yang memberi definisi pengertian peserta didik berdasarkan perkembangan jasmaniah seseorang. Setiap deinisi pengertian istilah peserta didik, selalu didasarkan pada dasar pemikiran atau argumen tertentu, dan hal tersebut tidak dapat disalahkan.
2. Karakteristik dan Perkembangan Peserta Didik
Karakteristik Perkembangan Sebelum Remaja
Masa orok dan bayi
Masa orok disebut masa perinatal dan neonatal. Pada masa perinatal dan neonatal pada fase ini berat dan panjang bayi nornal sekitar 3,5 kg dan 50 cm dengan ukuran kepala yang tidak proporsional yakni sekitar 25% dari panjang badan. Perkembangan otak bayi sampai usia dua tahun sangat cepat dan mencapai ¾ dari berat otak manusia dewasa. Inteligensi bayi mulai berfungsi sejak tahun pertama dengan sejumlah perilaku jasmaniah seperti duduk, merangkak dan mengucapkan kata-kata. Emosi bayi lebih banyak dipengaruhi oleh perasaan senang/suka dan tidak senang/tidak suka terhadap stimulus yang ada.
Masa pra-sekolah & masa sekolah
Fase perkembangan pra-sekolah berlangsung antara usia dua hingga enam tahun saat manusia mulai menyadari dirinya sebagai laki-laki atau perempuan. Inteligensi fase ini termasuk dalam periode pre-operational dengan kemampuan berfantasi dan berimajinasi, bukan dengan operasi mental yang logis. Fase ini mudah diliputi perasaan takut, cemas, marah, cemburu, gembira, kasih sayang dan perasaan ingin tahu.
Setelah mengalami perkembangan fase pra-sekolah, anak akan mengalami perkembangan masa sekolah atau masa usia SD/MI, yakni pada umur enam atau tujuh tahun hingga 12 tahun. Pada fase ini anak mengalami masa peka untuk mereaksi stimulus intelektual sekaligus siap melaksanakan tugas-tugas belajar.
Karakteristik Perkembangan Masa Remaja
Anak akan mengalami fase ini antara usia 12 hingga 21 atau 22 tahun. Remaja peserta didik MTs/SMP termasuk fase perkembangan remaja awal (usia 12-15 tahun) yang sering disebut ABG. Inteligensi para remaja peserta didik MTs/SMP berkembang lebih maju dan komprehensif dibanding dengan anak usia MI/SD, karena mereka telah sampai pada tahap perkembangan kognitif yang disebut Piaget sebagai formal-operational.
Karakteristik Perkembangan Masa Dewasa
Manusia mulai mencapai masa kedewasaan (adulthood) yang meliputi masa dewasa awal (early adulthood) dan masa setengah baya (middle age). Masa dewasa awal biasanya berlangsung antara usia 21 atau 22 hingga 40 tahun, sedang masa setengah baya berkisar antara usia 40 sampai 60 tahun diantara tanda-tanda kedewasaan mereka ialah sikap tenang dan istiqamah pada pendirian serta bijaksana dalam berpikir dan berbuat baik.
Prinsip-Prinsip Perkembangan Peserta Didik
Secara umum perkembangan manusia termasuk perkembangan peserta didik “taat” akan prinsip-prinsip umum perkembangan. Anita Woolfolk dalam bukunya yang masih tergolong baru Educational Psychology (2010). Mengemukakan tiga prinsip umum perkembangan yang terurai sebagai berikut:
People develop at different rate (manusia berkembang dengan kecepatan yang berbeda).
Development is relatively orderly (perkembangan pada umumnya teratur).
Development takes place gradually (perkembangan berlangsung secara bertahap).
3. Aspek-Aspek Pekembangan Peserta Didik
A. Aspek Jasmani dan Inteligensi
1. Aspek Jasmani
Aspek jasmani atau fisik merupakan aspek yang paling awal berkembang dalam diri manusia. Fisik manusia adalah sistem organ yang rumit dan memiliki ciri-ciri yang berbeda dengan organisme-organisme lainnya baik kuantitas maupun kualitas.
Menurut para ahli, aspek-aspek sistem organ manusia yang berkembang sejak dalam rahim ibunya hingga akhir hayat meliputi:
Sistem syaraf; yaitu sub-sistem organ yang sangat halus dan berperan penting bagi perkembangan kecerdasan dan perasaan.
Otot-otot; yaitu sub-sistem organ yang memengaruhi kekuatan fisik dan keterampilan-keterampilan motorik.
Kelenjar endokrin; yaitu kelenjar yang memproduksi hormon yang disalurkan ke seluruh tubuh melalui aliran darah. Kelenjar endokrin menghasilkan hormon-hormon yang berpengaruh terhadap perkembangan.
Perkembangan struktur jasmani; yaitu perubahan tinggi dan berat badan serta proporsinya.
Otak memiliki 100 miliar sel syaraf, dan setiap sel syaraf memiliki 300 saluran
hubungan dengan sel syaraf lainnya. Otak terdiri atas 2 bagian besar, yaitu; 1) bagian atas yang yang disebut cortex atau neocortex, 2) bagian bawah yang disebut medulla.
2. Aspek Inteligensi
Inteligensi atau kecerdasan manusia berkembang sesuai dengan fase-fase perkembangan manusia. Inteligensi adalah kemampuan kognitif manusia yang dapat dikatakan sebagai kecerdasan atau kecerdasan akal.
B. Aspek Emosi dan Bahasa
1. Aspek Emosi
Emosi adalah perasaan jiwa yang meliputi perasaan bahagia, perasaan duka, perasaan cinta/suka, perasaan benci/tidak suka, dsb. Perkembangan emosi banyak dipengaruhi oleh perkembangan fisik sistem syaraf yang terdapat dalam otak. Banyak pola ekspresi emosipesertadidik di antaranya yang paling lazimialahemosi yang berpola: takut/cemas, marah, suka, danbenci. Pola-polaemosiinimerupakanresponsterhadap stimulus tertentu, misalnyaperilaku orang-orang disekitarnya.Dalam activation theory (teoripengaktifan), emosimunculkarenapekerjaan yang terlalukeras yang dilakukanoleh system syaraf di otak.
2. Aspek Bahasa
Pada usia antara satu tahun enam bulan sampai dua tahun, perkembangan bahasa anak mulai muncul. Hal ini ditandai dengan ekspresi kalimat sederhana dan singkat yang terdiri atas dua atau tiga kata. Namun, perkembangan kemapuan berbahasa/berbicara seorang anak tidak lepas dari fungsi otak anak itu sendiri.
C. Aspek Kepribadian dan Sosial
1. Aspek Kepribadian
Kepribadian pada dasarnya merupakan kesatuan atau sistem psiko-fisik seseorang yang khas yang menentukan cara tertentu dalam merespons atau menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Kepribadian juga dapat dipandang sebagai mutu perilaku individu yang tampak dalam menyesuaikan diri secara unik dengan lingkungannya. Banyak faktor yang dapat memengaruhi kepribadian peserta didik, namun yang paling signifikan ialah:
1) faktor fisik peserta didik,
2) faktor kecerdasan
3) faktor keluarga
4) faktor kawan sebaya.
2. Aspek Sosial
Perkembangan aspek sosial artinya proses perubahan seseorang dalam mencapai kematangan untuk berhubungan sosial/bermasyarakat. Anak dilahirkan tanpa kemampuan berhubungan sosial. Lama kelamaan, seiring dengan perkembangan psiko-fisiknyaanak itu belajar menyesuaikan diri dan merespons lingkungan sosial. Kedua orang tua dan guru merupakan faktor yang sangat berpengaruh bagi perkembangan sosial peserta didik. Pendidikan yang berlangsung secara formal maupun informal memiliki peranan penting dalam mengembangkan psikososial peserta didik. Perkembangan psikososial merupakan proses perkembangan kepribadian peserta didik selaku seorang anggota masyarakat dalam berhubungan dengan orang lain.
D. Aspek Moral dan Keberagamaan
1. Aspek Moral
Perkembangan moral dalam hal ini berarti pembentukan dan pematangan pemahaman mengenai benar dan salah di kalangan anak-anak sejalan dengan perkembangan kognitif mereka. Perkembangan aspek moral peserta didik pada umumnya dianggap sebagai perkembangan aspek sosialnya juga. Alasannya, perilaku moral pada umumnya merupakan unsur fundamental dalam bertingkah laku sosial.
Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan moral peserta didik:
Sikap dan perilaku orang tua.
Konsistensi orang tua dalam mendidik anak.
Ketaatan orang tua terhadap norma-norma yang dianut seperti norma agama dan norma hukum yang berlaku.
2. Aspek Keberagamaan
Disamping aspek sosial dan moral, peserta didik juga mengalami perkembangan jiwa keagamaan yang mencakup kesadaran beragama dan ketaatan peserta didik terhadap agama yang dianutnya. Jiwa keagamaan merupakan naluri fitrah dan berkembang seiring dengan perkembangan psiko-fisik peserta didik dan pengaruh lingkungnnya. Perkembangan keberagamaan peserta didik dapat memengaruhi perkembangan psikososial dan moralnya, karena banyak norma keagamaan yang menjadi acuan orang dalam bersikap dan berperilaku sosial. Selain itu norma keagamaan (terutama Islam) juga mengandung ajaran moral sebagaimana yang tercermin dalam pelajaran akhlak. Merosotnya moral suatu bangsa terjadi saat institusi keagamaan kehilangan pengaruh dan kekuatannya sehingga kekuatan moralitas terlepas dari perilaku. Oleh karenanya, pendidikan agama seharusnya diperkuat agar tetap berpengaruh dan mewarnai karakter dan perilaku peserta didik.
4. Kriteria Perencanaan Pembelajaran yang sesuai Karakteristik Peserta Didik
A. Perencanaan Pembelajaran bagi Anak Usia SD
Karakteristik anak usia Sekolah Dasar adalah senang bermain, selalu bergerak, bermain atau bekerja dalam kelompok dan senantiasa ingin melaksanakan dan/atau merasakan sendiri. Berdasarkan karakteristik di atas, perencanaan pembelajaran dapat dilihat sebagai berikut:
1. Senang bermain, Guru SD hendaknya merancang model pembelajaran yang ada unsur permainannya tetapi tetap menunjukkan kesungguhan dan keseriusan dalam pembelajaran. Penyusunan jadwal pelajaran diselang-seling antara pelajaran yang serius dengan pelajaran yang mengandung unsur permainan.
2. Senang bergerak, Guru SD hendaknya merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak untuk berpindah atau bergerak.
3. Senang belajar dalam kelompok, Guru SD hendaknya merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak untuk bekerja/belajar dalam kelompok.
4. Senang melakukan sesuatu secara langsung, Guru SD hendaknya merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak terlibat langsung dalam proses pembelajaran.
B. Perencanaan Pembelajaran bagi Anak Usia Sekolah Menengah
Karakteristik anak usia sekolah menengah adalah pada perkembangan fisik dan perilaku psikomotorik, perkembangan bahasa dan perilaku kognitif, perkembangan perilaku sosial-moralitas dan religius, serta perkembangan perilaku afektif-konatif dan kepribadian. Berdasarkan karakteristik di atas, perencanaan belajar dapat dilihat sebagai berikut:
1. Karakteristik Perkembangan Fisik dan Perilaku Psikomotorik
Perkembangan Perkembangan fisik pada usia remaja berlangsung sangat cepat. Pada masa ini tumbuh ciri-ciri sekunder dari perkembangan remaja
Perilaku psikomotorik pada usia remaja menunjukkan gerakan-gerakan yang canggung dan kurang terkoordinasikan. Pada masa ini, perkembangan remaja putra dengan remaja putri berbeda. Hal ini menyebabkan terjadinya kecanggungan bergaul di antara mereka.
Dengan memperhatikan karakteristik tersebut, seorang pendidik seyogyanya menerapkan satu model pendidikan yaitu memisahkan laki-laki dengan wanita pada saat menjelaskan tentang anatomi dan fisiologi manusia, supaya anak lebih bebas untuk bertanya mengenai perkembangan dirinya.
2. Karakteristik Perkembangan Bahasa dan Perilaku Kognitif
Pada usia remaja tumbuh keinginan untuk mempelajari dan menggunakan bahasa asing, tetapi terkadang tidak diimbangi oleh usaha yang sungguh-sungguh sehingga menyebabkan remaja tersebut membenci pelajaran bahasa asing dan bahkan membenci gurunya. Untuk itu, dalam pembelajaran di sekolah, seorang guru bahasa asing harus memiliki kearifan untuk memahami kemampuan remaja secara individual.
Dalam hal perkembangan kognitif, siswa sekolah menengah telah mampu mengoperasikan kaidah-kaidah logika formal. Kecakapan intelektual umum menjalani laju perkembangan yang terpesat dan kecakapan khusus (bakat) menunjukkan kecenderungan arah perkembangan yang lebih jelas.
Dari karakteristik tersebut, seorang guru hendaknya menerapkan pendekatan pembelajaran yang memperhatikan perbedaan individual siswa sekolah menengah. Misalnya dengan membuat kelompok antara siswa-siswa yang unggul dengan yang lambat. Siswa-siswa yang unggul memberi bimbingan kepada siswa-siswa yang lambat (semacam tutor dan bimbingan teman sebaya).
3. Karakteristik Perilaku Sosial, Moralitas dan Keagamaan
Karakteristik perilaku sosial siswa sekolah menengah adalah ingin bebas dari pengaruh orang tua, tetapi lebih bergantung kepada kelompok sebayanya. Apabila ketergantungan ini tidak diarahkan secara positif, maka dapat menyebabkan terjadinya kenakalan remaja.
Dalam aspek pemahaman moral, usia remaja adalah usia yang kritis untuk mengjaji kaidah-kaidah, nilai etika atau norma dengan kenyataan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari orang dewasa.
Serta perkembangan aspek keagamaan pada usia remaja adalah memasuki masa skeptis dan kritis. Mereka mulai mempertanyakan secara skeptis mengenai eksistensi (keberadaan) dan sifat kemurahan dan keadilan Tuhannya, berupaya mencari dan mencoba menemukan pegangan hidupnya.
Dari karakteristik di atas, pendidikan hendaknya dilaksanakan dalam kelompok-kelompok belajar yang positif, misalnya dengan mengaktifkan kegiatan kepramukaan, keolahragaan, dan lain sebagainya. Selain itu, sekolah harus meningkatkan hubungannya dengan orang tua siswa dan dengan lembaga di masyarakat.
4. Karakteristik Perilaku Afektif, Konatif dan Kepribadian
Memasuki sekolah usia menengah, reaksi dan ekspresi emosi siswa masih labil dan belum terkendali, serta sering berubah dengan cepat.
Karakteristik ini menuntut pemberian contoh perilaku keteladanan dari orang tua, pendidik, dan tokoh-tokoh idola anak usia sekolah menengah. Oleh karena itu, guru hendaknya memberi oeluang siswa untuk belajar bertanggung jawab.
C. Perencanaan Pembelajaran bagi Usia Dewasa
Pada orang dewasa terdapat penurunan kemampuan fisik, sehingga cara belajar orang dewasa berbeda dengan kedua kelompok sebelumnya. Pada orang dewasa hendaknya pembelajaran ditujukan pada menemukan sendiri, terutama dalam mencari solusi terhadap suatu masalah. Di samping itu belajarnya diarahkan pada kemampuan berpikir konsep, dan model pendidikannya hendaknya memadukan antara pendidikan formal dan di luar sekolah.
D. Perencanaan Pembelajaran bagi Anak Berkelainan Fisik dan Psikis
Pembelajaran bagi anak-anak berketidakmampuan ditempatkan dalam kelas-kelas terpisah dengan pembelajaran dan guru-guru yang sudah terlatih secara khusus, sehingga anak-anak tersebut dapat mencapai kemajuan.
E. Modifikasi Tugas-Tugas Disesuaikan dengan Kemampuan dan Gaya Belajar Siswa
Tugas-tugas yang diberikan hendaknya disesuaikan dengan kesiapan para siswa dan disesuaikan dengan gaya atau model belajar siswa, karena kemampuan setiap siswa berbeda-beda.
BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
Setiap peserta didik mempunyai kriteria dan prinsip pengembangan diri yang berbeda-beda. Oleh karena itu, seorang pendidik harus mempunyai kemampuan kompleks. Seorang pendidik harus mampu menetapkan dan memilih strategi pembelajaran secara tepat, yang disesuaikan dengan kondisi dan situasi pembelajaran yang sedang dihadapi dan dilaksanakan di kelasnya, sehingga rencana pembelajaran tetap bisa dilaksanakan dan mencapai tujuan pembelajaran bagi peserta didiknya secara efektif dan efisien, dengan melibatkan secara aktif peserta didiknya.
2. Saran
Makalah ini merupakan karya yang di susun oleh kami dan sudah tentu jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang budiman, supaya kami bisa memperbaiki karya-karya kami selanjutnya
DAFTAR PUSTAKA
Muliawan, Jasa Ungguh. Epistemologi Pendidikan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Syah, Muhibbin. 2014. Telaah Singkat Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.
Sumantri, Mulyani. 2014. Perkembangan Peserta Didik. Tangerang Selatan: Universitas Terbuka.
Syah, Muhibbin. 2016. Telaah Singkat Perkembangan Peserta Didik. (Cetakan ke-2). Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.
Diajukan sebagai
Tugas mata kuliah Ilmu Pendidikan
Dosen Pengampu :
Drs. Sabarudin, M.Si
Disusun oleh :
Kholifia Nadhifah 17104010088
Dewi Ainin 17104010089
Bella Ayu Nurhalizah 17104010090
Bambang Bahrul Ulum 17104010091
Irhamna Addaafi’alqodiyah 17104010092
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
UIN SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2017
KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan Rahmat dan HidayatNya kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini. Sholawat serta Salam semoga selalu tercurahkan kepada junjungan kita semua Nabi Muhammad SAW yang selalu kita nati-nantikan SyafaatNya di Yaumul Kiyamah nanti. Makalah ini kami susun untuk memenuhi tugas mata kuliah Imu Pendidikan, dalam makalah ini kami membahas mengenai “PESERTA DIDIK”. Terima lupa kami ucapkan terima kasih pada semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini.
Kami menyadari bahwa dalam bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan, oleh sebab itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Dan semoga dengan selesainya makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan teman-teman.
Yogyakarta, 21 Oktober 2017
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Seperti yang kita ketahui bahwa ilmu pendidikan adalah ilmu yang mempelajari bagaimana cara mendidik adapun objek yang dididik adalah peserta didik, peserta didik adalah seseorang anak manusia yang mengalami proses pendidikan, setiap peserta didik memiliki metode pembelajaran yang berbeda-beda dikarenakan banyak faktor yang mereka miliki.
Setiap peserta didik mempunyai kriteria dan prinsip pengembangan diri yang berbeda-beda, peserta didik yang baik harus memiliki jati diri yang baik karena dapat menunjang proses pendidikan itu sendiri.
Proses pendidikan mempunyai berbagai perencanaan pembelajaran yang berbeda-beda yang mana setiap perencanaan mempunyai aspek yang berbeda pula.
2. Rumusan Masalah
Apa yang dimaksud peserta didik?
Bagaimana karateristik dan perkembangan peserta didik?
Apa saja aspek-aspek perkembangan peserta didik?
Bagaimana perencanaan pembelajaran bagi peserta didik?
Tujuan
Agar mahasiswa mengetahui hakikat peserta didik
Agar mahasiswa mengetahui karateristik peserta didik
Agar mahasiswa mengetahui aspek-aspek perkembangan peserta didik
Agar mahasiswa mengetahui perencanaan pembelajaran bagi peserta didik
BAB II
PEMBAHASAN
1. Peserta Didik
Pesrta didik adalah seorang anak manusia yang mengalami proses pendidikan. Ia selalu mengalami perkembangan sejak terciptanya sampai meninggal dengan proses perubahan-perubahan secara wajar. Untuk menentukan kriteria secara tepat siapa dan bagaimana yang dapat disebut peserta didik, perlu ditentukan terlebih dahulu dari sudut pandang mana kita akan mendefinisikan pengertian dari peserta didik.
Ada sebagian orang mendefinisikan pengertian peserta didik berdasarkan kriteria umur ada pula berdasarkan kriteria kemampuan belajar, tingkat kedewasaan, dan bahkan adapula yang memberi definisi pengertian peserta didik berdasarkan perkembangan jasmaniah seseorang. Setiap deinisi pengertian istilah peserta didik, selalu didasarkan pada dasar pemikiran atau argumen tertentu, dan hal tersebut tidak dapat disalahkan.
2. Karakteristik dan Perkembangan Peserta Didik
Karakteristik Perkembangan Sebelum Remaja
Masa orok dan bayi
Masa orok disebut masa perinatal dan neonatal. Pada masa perinatal dan neonatal pada fase ini berat dan panjang bayi nornal sekitar 3,5 kg dan 50 cm dengan ukuran kepala yang tidak proporsional yakni sekitar 25% dari panjang badan. Perkembangan otak bayi sampai usia dua tahun sangat cepat dan mencapai ¾ dari berat otak manusia dewasa. Inteligensi bayi mulai berfungsi sejak tahun pertama dengan sejumlah perilaku jasmaniah seperti duduk, merangkak dan mengucapkan kata-kata. Emosi bayi lebih banyak dipengaruhi oleh perasaan senang/suka dan tidak senang/tidak suka terhadap stimulus yang ada.
Masa pra-sekolah & masa sekolah
Fase perkembangan pra-sekolah berlangsung antara usia dua hingga enam tahun saat manusia mulai menyadari dirinya sebagai laki-laki atau perempuan. Inteligensi fase ini termasuk dalam periode pre-operational dengan kemampuan berfantasi dan berimajinasi, bukan dengan operasi mental yang logis. Fase ini mudah diliputi perasaan takut, cemas, marah, cemburu, gembira, kasih sayang dan perasaan ingin tahu.
Setelah mengalami perkembangan fase pra-sekolah, anak akan mengalami perkembangan masa sekolah atau masa usia SD/MI, yakni pada umur enam atau tujuh tahun hingga 12 tahun. Pada fase ini anak mengalami masa peka untuk mereaksi stimulus intelektual sekaligus siap melaksanakan tugas-tugas belajar.
Karakteristik Perkembangan Masa Remaja
Anak akan mengalami fase ini antara usia 12 hingga 21 atau 22 tahun. Remaja peserta didik MTs/SMP termasuk fase perkembangan remaja awal (usia 12-15 tahun) yang sering disebut ABG. Inteligensi para remaja peserta didik MTs/SMP berkembang lebih maju dan komprehensif dibanding dengan anak usia MI/SD, karena mereka telah sampai pada tahap perkembangan kognitif yang disebut Piaget sebagai formal-operational.
Karakteristik Perkembangan Masa Dewasa
Manusia mulai mencapai masa kedewasaan (adulthood) yang meliputi masa dewasa awal (early adulthood) dan masa setengah baya (middle age). Masa dewasa awal biasanya berlangsung antara usia 21 atau 22 hingga 40 tahun, sedang masa setengah baya berkisar antara usia 40 sampai 60 tahun diantara tanda-tanda kedewasaan mereka ialah sikap tenang dan istiqamah pada pendirian serta bijaksana dalam berpikir dan berbuat baik.
Prinsip-Prinsip Perkembangan Peserta Didik
Secara umum perkembangan manusia termasuk perkembangan peserta didik “taat” akan prinsip-prinsip umum perkembangan. Anita Woolfolk dalam bukunya yang masih tergolong baru Educational Psychology (2010). Mengemukakan tiga prinsip umum perkembangan yang terurai sebagai berikut:
People develop at different rate (manusia berkembang dengan kecepatan yang berbeda).
Development is relatively orderly (perkembangan pada umumnya teratur).
Development takes place gradually (perkembangan berlangsung secara bertahap).
3. Aspek-Aspek Pekembangan Peserta Didik
A. Aspek Jasmani dan Inteligensi
1. Aspek Jasmani
Aspek jasmani atau fisik merupakan aspek yang paling awal berkembang dalam diri manusia. Fisik manusia adalah sistem organ yang rumit dan memiliki ciri-ciri yang berbeda dengan organisme-organisme lainnya baik kuantitas maupun kualitas.
Menurut para ahli, aspek-aspek sistem organ manusia yang berkembang sejak dalam rahim ibunya hingga akhir hayat meliputi:
Sistem syaraf; yaitu sub-sistem organ yang sangat halus dan berperan penting bagi perkembangan kecerdasan dan perasaan.
Otot-otot; yaitu sub-sistem organ yang memengaruhi kekuatan fisik dan keterampilan-keterampilan motorik.
Kelenjar endokrin; yaitu kelenjar yang memproduksi hormon yang disalurkan ke seluruh tubuh melalui aliran darah. Kelenjar endokrin menghasilkan hormon-hormon yang berpengaruh terhadap perkembangan.
Perkembangan struktur jasmani; yaitu perubahan tinggi dan berat badan serta proporsinya.
Otak memiliki 100 miliar sel syaraf, dan setiap sel syaraf memiliki 300 saluran
hubungan dengan sel syaraf lainnya. Otak terdiri atas 2 bagian besar, yaitu; 1) bagian atas yang yang disebut cortex atau neocortex, 2) bagian bawah yang disebut medulla.
2. Aspek Inteligensi
Inteligensi atau kecerdasan manusia berkembang sesuai dengan fase-fase perkembangan manusia. Inteligensi adalah kemampuan kognitif manusia yang dapat dikatakan sebagai kecerdasan atau kecerdasan akal.
B. Aspek Emosi dan Bahasa
1. Aspek Emosi
Emosi adalah perasaan jiwa yang meliputi perasaan bahagia, perasaan duka, perasaan cinta/suka, perasaan benci/tidak suka, dsb. Perkembangan emosi banyak dipengaruhi oleh perkembangan fisik sistem syaraf yang terdapat dalam otak. Banyak pola ekspresi emosipesertadidik di antaranya yang paling lazimialahemosi yang berpola: takut/cemas, marah, suka, danbenci. Pola-polaemosiinimerupakanresponsterhadap stimulus tertentu, misalnyaperilaku orang-orang disekitarnya.Dalam activation theory (teoripengaktifan), emosimunculkarenapekerjaan yang terlalukeras yang dilakukanoleh system syaraf di otak.
2. Aspek Bahasa
Pada usia antara satu tahun enam bulan sampai dua tahun, perkembangan bahasa anak mulai muncul. Hal ini ditandai dengan ekspresi kalimat sederhana dan singkat yang terdiri atas dua atau tiga kata. Namun, perkembangan kemapuan berbahasa/berbicara seorang anak tidak lepas dari fungsi otak anak itu sendiri.
C. Aspek Kepribadian dan Sosial
1. Aspek Kepribadian
Kepribadian pada dasarnya merupakan kesatuan atau sistem psiko-fisik seseorang yang khas yang menentukan cara tertentu dalam merespons atau menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Kepribadian juga dapat dipandang sebagai mutu perilaku individu yang tampak dalam menyesuaikan diri secara unik dengan lingkungannya. Banyak faktor yang dapat memengaruhi kepribadian peserta didik, namun yang paling signifikan ialah:
1) faktor fisik peserta didik,
2) faktor kecerdasan
3) faktor keluarga
4) faktor kawan sebaya.
2. Aspek Sosial
Perkembangan aspek sosial artinya proses perubahan seseorang dalam mencapai kematangan untuk berhubungan sosial/bermasyarakat. Anak dilahirkan tanpa kemampuan berhubungan sosial. Lama kelamaan, seiring dengan perkembangan psiko-fisiknyaanak itu belajar menyesuaikan diri dan merespons lingkungan sosial. Kedua orang tua dan guru merupakan faktor yang sangat berpengaruh bagi perkembangan sosial peserta didik. Pendidikan yang berlangsung secara formal maupun informal memiliki peranan penting dalam mengembangkan psikososial peserta didik. Perkembangan psikososial merupakan proses perkembangan kepribadian peserta didik selaku seorang anggota masyarakat dalam berhubungan dengan orang lain.
D. Aspek Moral dan Keberagamaan
1. Aspek Moral
Perkembangan moral dalam hal ini berarti pembentukan dan pematangan pemahaman mengenai benar dan salah di kalangan anak-anak sejalan dengan perkembangan kognitif mereka. Perkembangan aspek moral peserta didik pada umumnya dianggap sebagai perkembangan aspek sosialnya juga. Alasannya, perilaku moral pada umumnya merupakan unsur fundamental dalam bertingkah laku sosial.
Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan moral peserta didik:
Sikap dan perilaku orang tua.
Konsistensi orang tua dalam mendidik anak.
Ketaatan orang tua terhadap norma-norma yang dianut seperti norma agama dan norma hukum yang berlaku.
2. Aspek Keberagamaan
Disamping aspek sosial dan moral, peserta didik juga mengalami perkembangan jiwa keagamaan yang mencakup kesadaran beragama dan ketaatan peserta didik terhadap agama yang dianutnya. Jiwa keagamaan merupakan naluri fitrah dan berkembang seiring dengan perkembangan psiko-fisik peserta didik dan pengaruh lingkungnnya. Perkembangan keberagamaan peserta didik dapat memengaruhi perkembangan psikososial dan moralnya, karena banyak norma keagamaan yang menjadi acuan orang dalam bersikap dan berperilaku sosial. Selain itu norma keagamaan (terutama Islam) juga mengandung ajaran moral sebagaimana yang tercermin dalam pelajaran akhlak. Merosotnya moral suatu bangsa terjadi saat institusi keagamaan kehilangan pengaruh dan kekuatannya sehingga kekuatan moralitas terlepas dari perilaku. Oleh karenanya, pendidikan agama seharusnya diperkuat agar tetap berpengaruh dan mewarnai karakter dan perilaku peserta didik.
4. Kriteria Perencanaan Pembelajaran yang sesuai Karakteristik Peserta Didik
A. Perencanaan Pembelajaran bagi Anak Usia SD
Karakteristik anak usia Sekolah Dasar adalah senang bermain, selalu bergerak, bermain atau bekerja dalam kelompok dan senantiasa ingin melaksanakan dan/atau merasakan sendiri. Berdasarkan karakteristik di atas, perencanaan pembelajaran dapat dilihat sebagai berikut:
1. Senang bermain, Guru SD hendaknya merancang model pembelajaran yang ada unsur permainannya tetapi tetap menunjukkan kesungguhan dan keseriusan dalam pembelajaran. Penyusunan jadwal pelajaran diselang-seling antara pelajaran yang serius dengan pelajaran yang mengandung unsur permainan.
2. Senang bergerak, Guru SD hendaknya merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak untuk berpindah atau bergerak.
3. Senang belajar dalam kelompok, Guru SD hendaknya merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak untuk bekerja/belajar dalam kelompok.
4. Senang melakukan sesuatu secara langsung, Guru SD hendaknya merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak terlibat langsung dalam proses pembelajaran.
B. Perencanaan Pembelajaran bagi Anak Usia Sekolah Menengah
Karakteristik anak usia sekolah menengah adalah pada perkembangan fisik dan perilaku psikomotorik, perkembangan bahasa dan perilaku kognitif, perkembangan perilaku sosial-moralitas dan religius, serta perkembangan perilaku afektif-konatif dan kepribadian. Berdasarkan karakteristik di atas, perencanaan belajar dapat dilihat sebagai berikut:
1. Karakteristik Perkembangan Fisik dan Perilaku Psikomotorik
Perkembangan Perkembangan fisik pada usia remaja berlangsung sangat cepat. Pada masa ini tumbuh ciri-ciri sekunder dari perkembangan remaja
Perilaku psikomotorik pada usia remaja menunjukkan gerakan-gerakan yang canggung dan kurang terkoordinasikan. Pada masa ini, perkembangan remaja putra dengan remaja putri berbeda. Hal ini menyebabkan terjadinya kecanggungan bergaul di antara mereka.
Dengan memperhatikan karakteristik tersebut, seorang pendidik seyogyanya menerapkan satu model pendidikan yaitu memisahkan laki-laki dengan wanita pada saat menjelaskan tentang anatomi dan fisiologi manusia, supaya anak lebih bebas untuk bertanya mengenai perkembangan dirinya.
2. Karakteristik Perkembangan Bahasa dan Perilaku Kognitif
Pada usia remaja tumbuh keinginan untuk mempelajari dan menggunakan bahasa asing, tetapi terkadang tidak diimbangi oleh usaha yang sungguh-sungguh sehingga menyebabkan remaja tersebut membenci pelajaran bahasa asing dan bahkan membenci gurunya. Untuk itu, dalam pembelajaran di sekolah, seorang guru bahasa asing harus memiliki kearifan untuk memahami kemampuan remaja secara individual.
Dalam hal perkembangan kognitif, siswa sekolah menengah telah mampu mengoperasikan kaidah-kaidah logika formal. Kecakapan intelektual umum menjalani laju perkembangan yang terpesat dan kecakapan khusus (bakat) menunjukkan kecenderungan arah perkembangan yang lebih jelas.
Dari karakteristik tersebut, seorang guru hendaknya menerapkan pendekatan pembelajaran yang memperhatikan perbedaan individual siswa sekolah menengah. Misalnya dengan membuat kelompok antara siswa-siswa yang unggul dengan yang lambat. Siswa-siswa yang unggul memberi bimbingan kepada siswa-siswa yang lambat (semacam tutor dan bimbingan teman sebaya).
3. Karakteristik Perilaku Sosial, Moralitas dan Keagamaan
Karakteristik perilaku sosial siswa sekolah menengah adalah ingin bebas dari pengaruh orang tua, tetapi lebih bergantung kepada kelompok sebayanya. Apabila ketergantungan ini tidak diarahkan secara positif, maka dapat menyebabkan terjadinya kenakalan remaja.
Dalam aspek pemahaman moral, usia remaja adalah usia yang kritis untuk mengjaji kaidah-kaidah, nilai etika atau norma dengan kenyataan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari orang dewasa.
Serta perkembangan aspek keagamaan pada usia remaja adalah memasuki masa skeptis dan kritis. Mereka mulai mempertanyakan secara skeptis mengenai eksistensi (keberadaan) dan sifat kemurahan dan keadilan Tuhannya, berupaya mencari dan mencoba menemukan pegangan hidupnya.
Dari karakteristik di atas, pendidikan hendaknya dilaksanakan dalam kelompok-kelompok belajar yang positif, misalnya dengan mengaktifkan kegiatan kepramukaan, keolahragaan, dan lain sebagainya. Selain itu, sekolah harus meningkatkan hubungannya dengan orang tua siswa dan dengan lembaga di masyarakat.
4. Karakteristik Perilaku Afektif, Konatif dan Kepribadian
Memasuki sekolah usia menengah, reaksi dan ekspresi emosi siswa masih labil dan belum terkendali, serta sering berubah dengan cepat.
Karakteristik ini menuntut pemberian contoh perilaku keteladanan dari orang tua, pendidik, dan tokoh-tokoh idola anak usia sekolah menengah. Oleh karena itu, guru hendaknya memberi oeluang siswa untuk belajar bertanggung jawab.
C. Perencanaan Pembelajaran bagi Usia Dewasa
Pada orang dewasa terdapat penurunan kemampuan fisik, sehingga cara belajar orang dewasa berbeda dengan kedua kelompok sebelumnya. Pada orang dewasa hendaknya pembelajaran ditujukan pada menemukan sendiri, terutama dalam mencari solusi terhadap suatu masalah. Di samping itu belajarnya diarahkan pada kemampuan berpikir konsep, dan model pendidikannya hendaknya memadukan antara pendidikan formal dan di luar sekolah.
D. Perencanaan Pembelajaran bagi Anak Berkelainan Fisik dan Psikis
Pembelajaran bagi anak-anak berketidakmampuan ditempatkan dalam kelas-kelas terpisah dengan pembelajaran dan guru-guru yang sudah terlatih secara khusus, sehingga anak-anak tersebut dapat mencapai kemajuan.
E. Modifikasi Tugas-Tugas Disesuaikan dengan Kemampuan dan Gaya Belajar Siswa
Tugas-tugas yang diberikan hendaknya disesuaikan dengan kesiapan para siswa dan disesuaikan dengan gaya atau model belajar siswa, karena kemampuan setiap siswa berbeda-beda.
BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
Setiap peserta didik mempunyai kriteria dan prinsip pengembangan diri yang berbeda-beda. Oleh karena itu, seorang pendidik harus mempunyai kemampuan kompleks. Seorang pendidik harus mampu menetapkan dan memilih strategi pembelajaran secara tepat, yang disesuaikan dengan kondisi dan situasi pembelajaran yang sedang dihadapi dan dilaksanakan di kelasnya, sehingga rencana pembelajaran tetap bisa dilaksanakan dan mencapai tujuan pembelajaran bagi peserta didiknya secara efektif dan efisien, dengan melibatkan secara aktif peserta didiknya.
2. Saran
Makalah ini merupakan karya yang di susun oleh kami dan sudah tentu jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang budiman, supaya kami bisa memperbaiki karya-karya kami selanjutnya
DAFTAR PUSTAKA
Muliawan, Jasa Ungguh. Epistemologi Pendidikan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Syah, Muhibbin. 2014. Telaah Singkat Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.
Sumantri, Mulyani. 2014. Perkembangan Peserta Didik. Tangerang Selatan: Universitas Terbuka.
Syah, Muhibbin. 2016. Telaah Singkat Perkembangan Peserta Didik. (Cetakan ke-2). Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.
Makalah Ilmu Pendidikan "PESERTA DIDIK"
Irhamna Addaafi’alqodiyah
Judul Buku : Origami Hati
Penulis : Boy Candra
Penyunting : Dian Nitami
Penyunting Akhir: Agus Wahadyo
Desainer Cover : Budi Setiawan
Penata Letak : Didit Sasono
Ilustrasi : Olvyanda Ariesta
Penerbit : Mediakita
Tahun Terbit : 2017
Cetakan Ke- : 1
Tebal Buku : iv + 296 hlm
Harga Buku : Rp. 70.000,00
“Karena mencintai tidak perlu meminta ia melupakan masa lalunya.”
Demikian kalimat pembuka dari Origami Hati sebuah novel yang ditulis oleh Boy Candra, beliau tinggal di Padang, Sumatera Barat lahir pada 21 November 1989 seorang penulis muda yang masih produktif hingga kini. Namanya kian melejit usai novel pertamanya yang laris di hati para pecinta novel. Melalui pengalamannya, mulai dari jatuh cinta, patah hati, dan segala perjalanan asmaranya tersampaikan dalam novel-novelnya yang menarik. Tak heran jika banyak yang mengutip kata-kata dalam novel ini.
Novel ini menceritakan seorang gadis yang terluka hatinya saat ditinggalkan oleh sang kekasih, ia menuangkan segala keluh kesahnya ke dalam origami hati. Beruntung gadis itu memiliki seorang sahabat yang tulus menyayanginya dan membantunya dalam melupakan masa lalunya. Gadis itu diajak untuk mengikuti suatu organisasi dan bertemu dengan sosok laki-laki yang menurutnya aneh, namun perlahan-lahan membuat jiwanya tenang. Mereka berdua menikmati senja, dan tempat-tempat hebat yang jarang ditemukan orang-orang pada umumnya. Pada akhirnya mereka saling mencintai, namun saat cinta mereka tengah bersemi kekasih gadis itu ingin kembali meminta hatinya dan gadis itu bimbang karena sebenarnya masih merindukan sosok kekasih lamanya.
Kelebihan dari buku ini cocok dibaca oleh kalangan remaja karena isi buku sepenuhnya dekat dengan romansa anak muda dengan tema percintaan, patah hati dan move on. Cover buku ini simple dan menarik, beberapa layout dikemas dengan halaman ilustrasi dan kutipan yang mengesankan. Penyisipan kutipan-kutipannya sangat menarik, sehingga menimbulkan minat baca. Pemilihan katanya juga sangat tertata dan menimbulkan rasa penasaran di dalam ceritanya.
Namun, disisi lain novel ini juga terdapat kekurangan. Terdapat kata-kata yang tidak efektif juga pemborosan kata serta banyak kalimat yang berulang. Alurnya campuran yang terkadang membingungkan para pembaca. Novel “Origami Hati”menyampaikan kisah yang sederhana namun terasa istimewa. Banyak pelajaran tentang cara menyikapi masa lalu yang selalu mudah dikenang namun sulit untuk dilupakan. Maka dari itu pembaca harus mengambil sisi positif yang terkandung dalam novel ini.
SENI MELIPAT CURHAT (Resensi Origami Hati Boy Candra)
OLEH : IRHAMNA ADDAAFI’ALQODIYAH
PENGANGGURAN
Mana ada sesuatu yang tak kau lupakan
Mana ada sesuatu yang tak kau hilangkan
Kehampaan itu hanyalah hampa
Kekosongan itu hanyalah kosong
Tak bisakah kau yakinkan?
Tak bisakah kau bangkit?
Apakah kau hanya akan memandang?
Tak bisakah kau?
Entah...
Jawaban apa yang dapat kau temukan?
Jawaban apa yang dapat kau simpulkan?
Jawaban apa yang dapat kau katakan?
BERKOBARLAH PILU
Setitik air dimata
Setitik air ditubuh
Setitik warna merah dilutut
Setitik warna merah disiku
Tiada cipta yang tak diciptakan
Tiada arti jika tak dapat diartikan
Tiada guna jika tak digunakan
Tiada temu jika tak dapat ditemukan
Kepedihan bertabur benih
Kesengsaraan bertabur luka
Jerit pahit bertabur pilu
Hanya luka yang membayang-bayang
Dalam lelah bertemunya matahari
Dalam letih bertemunya bulan
Hanya untuk dirimu
Hanya untuk kebahagiaanmu
KUMOHON BERHENTILAH... (STOP BULLYING)
Suara batinmu menyiksa
Suara lisanmu menyakitkan
Apapun yang kau keluarkan
Apapun yang kau katakan
Sejenak apakah kau dapat berpikir?
Sedetik apakah kau tak dapat merenung?
Sedikit apakah tak dapat kau sesali?
Sejenak saja sedetik saja sedikit saja
Apakah kau sudah tumbuh dewasa?
Apakah kau sudah dapat melihat?
Apakah kau mempunyai hati?
Apakah kau mempunyai rasa?
Rakyat kecil yang kau tindas
Orang cacat yang kau hempas
Kasta rendah yang kau tebas
Orang tak berdaya kau kupas
Kasih sayang yang telah kau ubah
Dosa besar yang telah kau tambah
Dengan uang kaupun berebah
Kumohon berhentilah....
Mereka tak mengusik hidupmu
Mereka tak merampas waktumu
Mereka ingin sama...
Hanya ingin sama...
SAHABAT AWAL
Seperti embun berbalut sutera
Seperti kasih yang selalu terpana
Seperti cahaya yang berbeda
Seperti cinta...
Walau lelah kau tetap bertahan
Walau sakit tak kau katakan
Walau menangis kau sembunyikan
Walaupun luka....
Tempatku mengadu luka
Tempatku bercerita segalanya
Tempatku tertidur
Tertidur dipangkuannya
HARAPAN YANG NANTI KAU TUANG
Ketika ombak dilautan bertepi
Apakah ikan dilaut nian menepi?
Jika alam hanya untuk kesenangan manusia
Apalah daya mereka yang bukan manusia
Apakah mereka tak dapat diberi kesempatan?
Apakah mereka tak diijinkan?
Menikmati ciptaan Tuhan
Seperti manusia
Tumpah ruah daratan bumi
Kian tinggilah lautan samudra
Pohon-pohon bertiduran
Sungaipun menyelimuti
Entah apakah yang akan kau tuah..
Akankah bumi menjadi langit?
Akankah langit menjadi bumi?
Akankah tertanam sebuah titik?


